Dampak Negatif Televisi (TV) | INFO PENDIDIKAN DAN KESEHATAN

Dampak Negatif Televisi (TV)

Tak cuma asupan makanan yang perlu ditata agar kesehatan tubuh jadi prima. Asupan TV yang memenuhi pikiran dan hati keluarga pun perlu ditata agar serapannya tidak mubazir dan merusak kesehatan mental ruhani.
Tak cuma asupan makanan yang perlu ditata agar kesehatan tubuh jadi prima. Asupan TV yang memenuhi pikiran dan hati keluarga pun perlu ditata agar serapannya tidak mubazir dan merusak kesehatan mental ruhani.
Anton yang merupakan seorang karyawan swasta, punya
mempunyai kejutan tersendiri bagi  keluarganya di akhir pekan. Dengan diam-diam ia merancang sebuah rencana liburan seminggu di Bali. Tapi Heru jadi terkejut ketika mendapat penolakan spontan dan anak-anak. Ironisnya, alasan Andi (9) dan Budi (7) terdengar “sepele” sekali. “Nggak mau, nanti aku nggak bisa nonton...” Terang saja Aku jadi kecewa sekaligus gemas dibuatnya. Budi lantas tersadarkan bahwa selama ini ia dan istrinya terlampau bebaskan anak-anak menikmati TV. Mereka lantas mulai berpikir, “Ah, bagaimana cara mengatasinya ya?”

Tayangan buruk berakibat buruk


Elly Risman,
Psi, Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati, menegaskan bahwa dan berbagai tayangan TV, sajian yang dominan terhidang adalah tayangan yang tidak mendidik. Tayangan buruk ini, ungkap Elly, berhubungan erat dengan keberpihakan stasiun TV yang menurutnya lebih mementingkan raupan rupiah ketimbang kepentingan masa depan masyarakat, khususnya anak. Parahnya lagi respon masyarakat dan upaya melindungi anak-anak dan tayangan TV yang tidak mendidik ini amat minim. Akibatnya, banyak anak yang melahap acara TV tanpa batas dan aturan yang jelas. Kalau sudah begini, “Cepat atau lambat, menonton TV tanpa aturan dan batasan akan berakibat buruk,” tegas Elly. Dampak buruk akan semakin parah bila anak sudah terbiasa nonton sejak usia prasekolah atau di bawah lima tahun. Sebab pada masa itu, anak - anak belum bisa membedakan antara acting atau tipuan kamera dengan kenyataan. Bagi mereka, apa yang dilihatnya di layar kaca sama saja dengan kenyataan. Padahal, banyak orangtua mudah saja menjadikan TV teman bermain anak sejak kecil saat orangtua terutama ibu sedang sibuk bekerja. Alasan mereka, anak jadi anteng kalau dibiarkan nonton TV. Fisik dan mental jadi terganggu
Secara fisik, terlalu banyak menonton TV juga akan mengganggu gerakan otot mata anak. Mata terbiasa melihat lurus dan tidak bergerak - gerak seperti saat membaca buku. ‘Akibatnya, anak akan mengalami kesulitan membaca karena gangguan otot matanya,” tutur psikolog yang sangat konsisten memperjuangkan UU anti pornografi dan pornoaksi ini.
Selain mengganggu otot mata, menonton juga mengakibatkan metabolisme tubuh terganggu karena anak cenderung pasif, tidak banyak bergerak. Karena itu, anak-anak yang banyak menghabiskan waktu dengan menonton TV punya kecenderungan mengalami kegemukan.
Dan sisi kejiwaan, iklan dan tayangan yang ditonton anak bisa mendorong anak menjadi konsumtif. Lihat saja betapa laku kerasnya produk teletubbies, pokemon, spongebob, dan produk pendukung lain seiring dengan tingginya rating tayangan tersebut. Anak yang senang pada satu tayangan, jadi tertarik memiliki produk tokoh tayangan atau bahkan segala produk yang diiklankan oleh tokoh favorit mereka. Belum lagi kalau bicara soal tindak kekerasan yang banyak diumbar di berbagai tayangan anak. Kekerasan yang diumbar ini, seperti memukul, menjambak, menghantam, atau mencekik tak selalu dilakukan si tokoh jahat, namun juga oleh tokoh baik’. Tak heran bila berbagai penelitian lain lantas menunjukkan bahwa anak-anak yang banyak menonton TV cenderung lebih agresif dibandingkan dengan anak-anak yang jarang menonton TV. lni belum termasuk banyaknya kalimat-kalimat negatif seperti makian dan ejekan yang dilontarkan tokoh TV. Menurut Elly, dampak buruk terpapar tayangan TV ini memang tidak terlihat segera pada diri anak. Efeknya bisa jadi baru terlihat belasan tahun mendatang. Kekerapan menonton adegan kekerasan dalam TV akan menimbulkan dampak kumulatif, yaitu, anak-anak menjadi tidak peka terhadap kenyataan dan konsekuensi kekerasan. Bahkan, mungkin lebih cenderung menganggap kekerasan merupakan solusi dan persoalan kehidupan sehari-hari. Efek buruk lainnya, ujar Elly lagi, adalah efek candu. Bila sudah nyandu, anak akan menganggap tidak ada kegiatan lain yang lebih asyik dibandingkan menonton TV. Lebih parah lagi, bila efek nyandu mi mengakibatkan anak jadi malas bersosialisasi dengan orang lain. ‘Padahal, yang paling penting dikembangkan pada anak-anak adalah kemampuan beninteraksi dan bersosialisasi dengan teman atau orang lain. Sedangkan menonton TV adalah proses non-interaktif meskipun orang lain berada di dekatnya,” tutur Elly.
Tentu saja, masih ada manfaat menonton televisi bagi anak. Efek baik ini antara lain, anak bisa mendapatkan tambahan wawasan dengan mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan peristiwa yang terjadi di dunia, dan perkembangan permasalahan yang ada di luar lingkungannya. Selain itu, anak juga dapat menambah kosakata terutama kata-kata yang tidak terlalu sering digunakan sehari-hari. Sayangnya jumlah program seperti itu masih sangat sedikit.

Diet TV, bagaimana?
Satu yang bisa dilakukan orangtua untuk meminimalisasi efek buruk tayangan TV adalah dengan melakukan diet TV. Sebagaimana diet makan, pada diet TV juga diatur jumlah dan jenis tayangan yang boleh dikonsumsi keluarga.
Aturan ini perlu ditegaskan orangtua secara konsisten. Misalnya, orangtua menetapkan waktu setengah jam sehari untuk nonton TV. Maka, jangan tergoda untuk membiarkan anak melewati batas waktu menonton ini. Lantas, bagi anak yang sudah berusia 7 tahun, bisa diajak berdiskusi soal dampak buruk bus banyak menonton TV. Apa yang terjadi pada otot matanya, tulang punggungnya, otaknya, waktu bermain, belajarnya, dan seterusnya. Sementara, bila usia anak di bawah tujuh tahun, orangtua dapat mengalihkan kegiatan anak ke arab kegiatan yang lebih positif, seperti memberikan mainan atau mengajak anak melakukan aktivitas asyik lamnnya.
Tentu saja orangtua perlu berkorban untuk sedikit jadi “repot” dalam mengeksplorasi berbagai cara dan kegiatan yang menarik. Namun, banyak cara bisa dilakukan orangtua, mencari lewat buku, browsing di Internet, sharing dengan orangtua lain atau memilih ikut pelatihan.
Lewat yayasan yang dipmmpinnya, Kita dan Buah Hati, Elly menawarkan pelatihan bermain bermakna. Pelatihan tersebut mengarahkan orangtua untuk menganalis cara kerja otak anak. Ada berbagai macam kegiatan yang bisa dilakukan, seperti bermain dengan barang bekas, dengan air, batu, daun dan sebagainya. Atau, dengan mengajarkan anak berbagai ketrampilan, seperti menyulam, menjahit, merangkai bunga, atau kegiatan olahraga. Dengan aneka kegiatan tersebut, anak-anak bisa memiliki alternatif lain selain nonton TV. Selain membatasi waktu nonton, orangtua juga perlu mengetahui jenis tayangan yang ada. Untuk membantu orangtua dalam melakukan kategori tayangan anak kini sudah ada media watch khusus yang mengamati soal tayangan bagi anak, seperti yang diterbitkan KIDIA. Dengan berlangganan media KIDIA ini misalnya, orangtua dapat menilai apakah satu tayangan masuk kategori aman, hati-hati ataukah berbahaya. Aturan dalam diet TV tentu harus selalu dievaluasi dan sosialisasikan ulang kepada seluruh anggota keluarga. Jangan cepat putus asa dan ingat bahwa kata kuncinya terletak pada konsistensi. Di atas semua itu, ingatlah bahwa diet TV bukan hanya berlaku kepada anak, tapi juga berlaku untuk seluruh anggota keluarga. Jadi, bakal susah omong soal diet TV bagi anak bila orangtua sendiri nyandu nonton gosip atau acara yang tidak sesuai umur.
 
SHORT DESCRIPTION OF IMAGE/POST USING SOME KEYWORDS

Anton yang merupakan seorang karyawan swasta, punya
mempunyai kejutan tersendiri bagi  keluarganya di akhir pekan. Dengan diam-diam ia merancang sebuah rencana liburan seminggu di Bali. Tapi Heru jadi terkejut ketika mendapat penolakan spontan dan anak-anak. Ironisnya, alasan Andi (9) dan Budi (7) terdengar “sepele” sekali. “Nggak mau, nanti aku nggak bisa nonton...” Terang saja Aku jadi kecewa sekaligus gemas dibuatnya. Budi lantas tersadarkan bahwa selama ini ia dan istrinya terlampau bebaskan anak-anak menikmati TV. Mereka lantas mulai berpikir, “Ah, bagaimana cara mengatasinya ya?”

Tayangan buruk berakibat buruk

Elly Risman,
Psi, Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati, menegaskan bahwa dan berbagai tayangan TV, sajian yang dominan terhidang adalah tayangan yang tidak mendidik. Tayangan buruk ini, ungkap Elly, berhubungan erat dengan keberpihakan stasiun TV yang menurutnya lebih mementingkan raupan rupiah ketimbang kepentingan masa depan masyarakat, khususnya anak. Parahnya lagi respon masyarakat dan upaya melindungi anak-anak dan tayangan TV yang tidak mendidik ini amat minim. Akibatnya, banyak anak yang melahap acara TV tanpa batas dan aturan yang jelas. Kalau sudah begini, “Cepat atau lambat, menonton TV tanpa aturan dan batasan akan berakibat buruk,” tegas Elly. Dampak buruk akan semakin parah bila anak sudah terbiasa nonton sejak usia prasekolah atau di bawah lima tahun. Sebab pada masa itu, anak - anak belum bisa membedakan antara acting atau tipuan kamera dengan kenyataan. Bagi mereka, apa yang dilihatnya di layar kaca sama saja dengan kenyataan. Padahal, banyak orangtua mudah saja menjadikan TV teman bermain anak sejak kecil saat orangtua terutama ibu sedang sibuk bekerja. Alasan mereka, anak jadi anteng kalau dibiarkan nonton TV. Fisik dan mental jadi terganggu
Secara fisik, terlalu banyak menonton TV juga akan mengganggu gerakan otot mata anak. Mata terbiasa melihat lurus dan tidak bergerak - gerak seperti saat membaca buku. ‘Akibatnya, anak akan mengalami kesulitan membaca karena gangguan otot matanya,” tutur psikolog yang sangat konsisten memperjuangkan UU anti pornografi dan pornoaksi ini.
Selain mengganggu otot mata, menonton juga mengakibatkan metabolisme tubuh terganggu karena anak cenderung pasif, tidak banyak bergerak. Karena itu, anak-anak yang banyak menghabiskan waktu dengan menonton TV punya kecenderungan mengalami kegemukan.
Dan sisi kejiwaan, iklan dan tayangan yang ditonton anak bisa mendorong anak menjadi konsumtif. Lihat saja betapa laku kerasnya produk teletubbies, pokemon, spongebob, dan produk pendukung lain seiring dengan tingginya rating tayangan tersebut. Anak yang senang pada satu tayangan, jadi tertarik memiliki produk tokoh tayangan atau bahkan segala produk yang diiklankan oleh tokoh favorit mereka. Belum lagi kalau bicara soal tindak kekerasan yang banyak diumbar di berbagai tayangan anak. Kekerasan yang diumbar ini, seperti memukul, menjambak, menghantam, atau mencekik tak selalu dilakukan si tokoh jahat, namun juga oleh tokoh baik’. Tak heran bila berbagai penelitian lain lantas menunjukkan bahwa anak-anak yang banyak menonton TV cenderung lebih agresif dibandingkan dengan anak-anak yang jarang menonton TV. lni belum termasuk banyaknya kalimat-kalimat negatif seperti makian dan ejekan yang dilontarkan tokoh TV. Menurut Elly, dampak buruk terpapar tayangan TV ini memang tidak terlihat segera pada diri anak. Efeknya bisa jadi baru terlihat belasan tahun mendatang. Kekerapan menonton adegan kekerasan dalam TV akan menimbulkan dampak kumulatif, yaitu, anak-anak menjadi tidak peka terhadap kenyataan dan konsekuensi kekerasan. Bahkan, mungkin lebih cenderung menganggap kekerasan merupakan solusi dan persoalan kehidupan sehari-hari. Efek buruk lainnya, ujar Elly lagi, adalah efek candu. Bila sudah nyandu, anak akan menganggap tidak ada kegiatan lain yang lebih asyik dibandingkan menonton TV. Lebih parah lagi, bila efek nyandu mi mengakibatkan anak jadi malas bersosialisasi dengan orang lain. ‘Padahal, yang paling penting dikembangkan pada anak-anak adalah kemampuan beninteraksi dan bersosialisasi dengan teman atau orang lain. Sedangkan menonton TV adalah proses non-interaktif meskipun orang lain berada di dekatnya,” tutur Elly.
Tentu saja, masih ada manfaat menonton televisi bagi anak. Efek baik ini antara lain, anak bisa mendapatkan tambahan wawasan dengan mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan peristiwa yang terjadi di dunia, dan perkembangan permasalahan yang ada di luar lingkungannya. Selain itu, anak juga dapat menambah kosakata terutama kata-kata yang tidak terlalu sering digunakan sehari-hari. Sayangnya jumlah program seperti itu masih sangat sedikit.

Diet TV, bagaimana?
Satu yang bisa dilakukan orangtua untuk meminimalisasi efek buruk tayangan TV adalah dengan melakukan diet TV. Sebagaimana diet makan, pada diet TV juga diatur jumlah dan jenis tayangan yang boleh dikonsumsi keluarga.
Aturan ini perlu ditegaskan orangtua secara konsisten. Misalnya, orangtua menetapkan waktu setengah jam sehari untuk nonton TV. Maka, jangan tergoda untuk membiarkan anak melewati batas waktu menonton ini. Lantas, bagi anak yang sudah berusia 7 tahun, bisa diajak berdiskusi soal dampak buruk bus banyak menonton TV. Apa yang terjadi pada otot matanya, tulang punggungnya, otaknya, waktu bermain, belajarnya, dan seterusnya. Sementara, bila usia anak di bawah tujuh tahun, orangtua dapat mengalihkan kegiatan anak ke arab kegiatan yang lebih positif, seperti memberikan mainan atau mengajak anak melakukan aktivitas asyik lamnnya.
Tentu saja orangtua perlu berkorban untuk sedikit jadi “repot” dalam mengeksplorasi berbagai cara dan kegiatan yang menarik. Namun, banyak cara bisa dilakukan orangtua, mencari lewat buku, browsing di Internet, sharing dengan orangtua lain atau memilih ikut pelatihan.
Lewat yayasan yang dipmmpinnya, Kita dan Buah Hati, Elly menawarkan pelatihan bermain bermakna. Pelatihan tersebut mengarahkan orangtua untuk menganalis cara kerja otak anak. Ada berbagai macam kegiatan yang bisa dilakukan, seperti bermain dengan barang bekas, dengan air, batu, daun dan sebagainya. Atau, dengan mengajarkan anak berbagai ketrampilan, seperti menyulam, menjahit, merangkai bunga, atau kegiatan olahraga. Dengan aneka kegiatan tersebut, anak-anak bisa memiliki alternatif lain selain nonton TV. Selain membatasi waktu nonton, orangtua juga perlu mengetahui jenis tayangan yang ada. Untuk membantu orangtua dalam melakukan kategori tayangan anak kini sudah ada media watch khusus yang mengamati soal tayangan bagi anak, seperti yang diterbitkan KIDIA. Dengan berlangganan media KIDIA ini misalnya, orangtua dapat menilai apakah satu tayangan masuk kategori aman, hati-hati ataukah berbahaya. Aturan dalam diet TV tentu harus selalu dievaluasi dan sosialisasikan ulang kepada seluruh anggota keluarga. Jangan cepat putus asa dan ingat bahwa kata kuncinya terletak pada konsistensi. Di atas semua itu, ingatlah bahwa diet TV bukan hanya berlaku kepada anak, tapi juga berlaku untuk seluruh anggota keluarga. Jadi, bakal susah omong soal diet TV bagi anak bila orangtua sendiri nyandu nonton gosip atau acara yang tidak sesuai umur.

0 Response to "Dampak Negatif Televisi (TV)"