Stimulasi Saat Hamil | INFO PENDIDIKAN DAN KESEHATAN

Stimulasi Saat Hamil






Mengelus-elus perut atau bernyanyi saat hamil ternyata memiliki efek yang luar biasa.Stimulasi sederhana ini ternyata bisa memicu perkembangan otakjanin. Simak kiat lain bagaimana membuat anakjadi cerdas. SIAPA tidak ingin memiliki ana cerdas. Konon, kecerdasan ana dapat dikembangkan sejak data kandungan. Dr. Tjin Wiguna SpKJ (K),  Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa membenarkan hal itu. Stimulasi perkembangan otak menurut Dr.Tjin bisa dilakukan seja dalam kandungan. Rajin mengelus perut saat hamil, bergumam ternyata mendatangkan hal positif bagi perkembangan anak. Dikatakan Dr.Tjin, beberapa kebiasaan ini memberikan manfaat dalam menstimulasi perkembangan otak (kognitif) janin. Stimulasi sangat penting diberikan guna perkembangan otaknya. Dr. Tjin menuturkan, pemberian stimulasi bagian dan Asah, Asih dan Asuh yang diberikan pada bayi bayi secara konsisten dan sesuai dengan tumbuh kembanganya. “Perkembangan kognitif harus dibantu dengan pemberian stimulasi dart pola asuh dengan penuh kasih sayang dan cukup nutrisi,”ularnya.

Asah, Asih dan Asuh
 
Selain menyenangkan, tumbuh kembang anak memang menjadi daya tank tersendiri bagi orang tua. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh anak. Sedangkan perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang Iebih kompleks. Tahap perkembangan, diawali dengan perk embangan kognitifanakDikatakan Dr. Tjin dibutuhkan beberapa faktordalam membantu perkembangan kognitifnya, yaitu:asah,asih dan asuh.
“Untukperkembangan kognitifnya, anak harus mendapatkan asuhan yang baik,yaitu dengan asupan nutrisi yang cukup dan cukup kasih sayang. Selain itu, kemampuan anak juga harus senantiasa di asah atau distimulasi agar bisa optimal,” katanya.
Sementara, stimulasi adalah salah satu faktor yang juga sangat berperan dalam perkembangan kognitif anak. Stimulasi merupakan kegiatan merangsang kemampuan dasar anak yang datangnya di luar individu anak agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal.Walaupun, dikatakan Jean Piaget (1896-1980), pakar psikologi dan Swiss anak bisa niembangun secara aktifdunia kognitif rnereka sendiri,namun stimulasi harus tetap diberikan secara bertahap dan onsisten.” Memang,tanpa di stimulasi anak tetap bisa mengeksplore. Tapi akan beda keoptimalannya antara yang stimulasi dan yang tidak,”urainya.

Stimulasi Sejak Dini

Stimulasi sebenarnya sudah bisa diberikan sejak dalam kandungan. Meskipun tidak langsung pada bayi dalam kandungan/ janinnya, stimulasi bisa memberikan efek tenang pada ibu hamil. Misalnya,  bergumam atau berkomunikasi dengan janin atau hanya sekedar dengan mengelus-elus perut. Aktifitas kecil dan sepele yang membuat nyaman, bisa menimbulkan ketenangan dan menjauhkan tekanan atau kelelahan pada ibu hamil. Pada kondisi tenang dan jauh dan tekanan, dikatakan Dr.Tjin,perkembangan otak janin akan maksimal. “Ibu yang stres atau tertekan, bisa mengakibatkan hormon stres meningkat dan berakibat buruk pada pertumbuhan otak janin,”
Begitu juga setelah lahir, selain nutrisi yang cukup, ditegaskan Dr. Tjin, stimulasi harus selalu diberikan secara konsisten dan sesuai dengan perkembangannya. Terutama, pada saat usia 0-3 tahun, yang merupakan masa golden age atau pertumbuhan otak yang sangat pesat. “Otak yang memiliki kemampuan untuk berubah fungsinya karena bersifat plastis. 0-3 tahun adalah masa paling baik, otak mampu tumbuh dengan sangat pesat. Bukan berarti setelah usia itu otak tidak mengalami pertumbuhan,hanya saja lebih lambat karena plastisitasnya yang berbeda,” katanya.

Kemampuan
Gerak & Bahasa
 
Ada beragam cara dan jenis stimulasi pada anak. Bahkan dengan cara sederhana sekalipun, ada banyak bentuk stimulasi yang tersedia. Hanya saja, menurut Dr. Tjin, stimulasi pada anak selain harus diberikan secara konsisten dan disesuaikan dengan tahapan usianya. Menurutnya kemampuan dasar yang harusnya dirangsang dengan stimulasi adalah perkembangan anak yang meliputi kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian.

“Stimulasinya bergantung usianya dan fokusnya. Anak 0-2 tahun membutuhkan stimulasi sensori motor yang berfokus pada memaksimalkan fungsi panca indera, misalnya dengan menggangungkan mainan berwarna kontras di atasnya atau belajar tengkurap dan duduk dan lain sebagainya,” paparnya. Selain itu, Dr. Tjin menyarankan sebaiknya stimulasi dilakukan dalam suasana menyenangkan dan gembira. Jangan memberikan stimulasi dengan terburu-terburu, memaksakan kehendak, tidak memperhatikan minat atau keinginan anak, atau anak sedang mengantuk,bosan atau ingin bermain yang lain. “Masa anak adalah masa bermain. OIeh sebab itu, stimulasilah dengan cara bermain dan berinteraksi, Sehingga menyenangkan dan tidak membosankan. Dengan demikian, stimulasi bisa maksimal dan membuat mereka belajar lebih kreatif dan lebih inisiatif,” urainya.
Sayangnya, tidak jarang stimulasi juga dipengaruhi oleh emosi orang tua/ pengasuhnya. Pengasuh yang sering marah, bosan, sebal, maka tanpa disadari akan memberikan rangsang emosional yang negatif. Karena pada prinsipnya semua ucapan, sikap dan perbuatan pengasuh adalah merupakan stimulasi yang direkam, diingat dan akan ditiru oleh anak.
4 Tahap Perkembangan. Tahapan perkembangan kognitif anak berbeda-beda pada setiap tahapan umurnya. Jean Piaget (1896- 1980), pakar psikologi dan Swiss, mengelompokkan perkembangan kognitif anak dalam 4 tahapan, Salah satunya adalah tentang
Sensori Motor (usia 0-2 tahun). Dalam tahap ini perkembangan panca indra sangat berpengaruh dalam diri anak. Keinginan terbesarnya adalah menyentuh/memegang, karena didorong oleh keinginan untuk mengetahul reaksi dan perbuatannya.

0 Response to "Stimulasi Saat Hamil"