Cegah Kanker Hati (Liver) | INFO PENDIDIKAN DAN KESEHATAN

Cegah Kanker Hati (Liver)

 
ilustrasi hati


Setiap orang memiliki satu atau dua momen yang akan selalu dikenangnya. Entah itu momen pernikahan, kelahiran, ataupun momen-momen menyenangkan Iainnya. Namun bagi seorang Dahlan Iskan, momen transpiantasi hati Iah yang lekat di ingatannya. tanggal 6 Agustus 2007, Beliau harus menjalani transpiantasi hati karena menderita kanker hati yang berawal dan hepatitis B yang tenlambat diobati. Sebelumnya Ia tidak menyadari penyakitnya karena penyakitnya ini tidak memberikan gejala yang khas. Klimaksnya terjadi saat ia mengalami muntah darah, Ia pun Iangsung melakukan pengecekan kepada seorang dokter. Dokter mengatakan Iivernya telah sirosis. Bahkan, hati yang rusak itu telah dipenuhi kanker. Dokter pun Iangsung menyarankan untuk segera melakukan transpiantasi hati dalam waktu kurang Iebih enam bulan. “Jika tidak, maka nyawanya tidak akan tertolong,” tuturnya saat ditemui dalam acara memperingati Hari Hepatitis Sedunia di Gedung Kementerian Kesehatan. Tak ada pilihan, Dahian Iskan menjalani operasi transplantasi hati di China. Operasi selama 18 jam itu sukses dan fungsi hatinya perlahan membaik. Namun Beliau harus minum obat seumur hidup. Setiap 2 minggu, Beliau harus rutin melakukan periksa darah. Dan setiap 10 hari Beliau juga harus melakukan imunisasi untuk menjaga derajat tertentu di hatinya tetap normal. Selain minum obat dan pemeriksaan rutin, Beliau juga mengatakan harus menghindari alkohol, makanan berpengawet, vetsin, pewarna, makanan yang dibakar,dan makanan berlemak.
 
Cikal Bakal Kanker Hati


Cerita di atas bukanlah karangan semata. Dahian lskan adalah saksi keganasan Hepatitis. Teledorkan hepatitis, nyawa adalah taruhannya. Tentunya tidak ada yang ingin mengalami nasib Dahlan Iskan. Transpiantasi hati begitu memakan biaya sangat mahal (hingga angka milyaran). Namun pada suatu kondisi tertentu menjadi pilihan tunggal yang tidak bisa ditawar, terutama pada mereka yang mengalami kanker hati. Pertanyaannya,ada berapa orang yang mampu membiayai operasi mahal mi? Padahal transplantasi hati bisa dihindari dengan menangkap pencetus kanker hati, yaitu virus hepatitis B dan C. Kanker hati lebih banyak dialami oleh pria, dengan rasio 3 kali lipat dibandingkan wanita dan biasanya terjadi pada pasien di usia 40 sampai dengan 50 tahun. Di Indonesia, kanker hati umumnya di awali adanya infeksi kronis virus hepatitis B dan atau virus hepatitis C dengan sirosis. Di kebanyakan negara di Asia (kecuali Jepang), infeksi kronis virus hepatitis B adalah penyakit utama kanker hati.

Banyak yang Tidak sadar
 
Pemerhati Hepatitis Prof H All Sulaiman, SpPD-KGEH(K) membawakan sebuah data yang mencenangkan di mana 1 dan 10 masyarakat Indonesia terserang Hepatitis. Kurang lebih 20 juta masyarakat menderita Hepatitis, 15 juta di antaranya menderita Hepatitis B dan 5 juta Hepatitis C. Sayangnya, tingginya angka ini tidak diikuti dengan kesadaran dan masyarakat. Bahkan sebelumnya pemerintah pun juga tidak banyak menaruh perhatian.
“Hepatitis seperti fenomena gunung es yang hanya nampak sebagian kecil saja, yaitu sekitar 30 persen saja. Sementara menurut catatan Kementrian Kesehatan sekitar 5-10 persen. Sedangkan sisanya, 70 persennya tidak terjamah atau terdeteksi oleh tenaga kesehatan,”ungkapnya.
Menurut Beliau, pangkal utama tersebut karena hepatitis adalah jenis penyakit yang tidak memberikan gejala dan keluhan pada penderitanya. OIeh sebab itu disebut silent killer. Liver adalah organ yang kuat dan tidak ‘cengeng’ Saat virus masuk, tubuh tidak memberikan reaksi sampai 15-20 tahun kemudian. “Hanya saja,saat pergi ke dokter telah terjadi sirosis pada liver. Bentuknya sudah berenjolan dan bahkan sudah mencapai kanker hati,”katanya. Jika seperti itu,jawabannya adalah transplantasi hati, padahal biayanya tidak main-main.”Paling murah saja 700 juta, itupun dengan usaha donor sendiri, kalau tidak bisa sampai 3 milyar,”katanya prihatin.
Keprihatinan senada dirasakan Dr. Unggul Budihusodo, SpPD KGEH. Karena itu, menurut Dr. Unggul, penanganan hepatitis perlu dilakukan segera. Peningkatan kesadaran masyarakat dan akses terhadap terapi merupakan dua hal mendasar yang sangat penting untuk diperhatikan.
Dr.Unggul menjelaskan, Hepatitis dapat disebabkan oleh berbagai hal. Bisa disebabkan oleh infeksi virus, bakteri,atau parasit,atau non-infeksi, misalnya akibat penggunaan obato batan, zat kimia, proses autoimun, atau konsumsi alkohol. Biasanya, sekitar 90 % dan penderita hepatitis adalah yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis. Di Indonesia kasus hepatitis yang ditemukan bisa disebabkan oleh virus hepatitis A, B, C,dan E. Hepatitis B dan C mempunyai kecenderungan menjadi hepatitis kronik.”Pada Hepatitis C kemungkinan menjadi kronik lebih besar, yaitu sekitar 85 % dan penderita hepatitis C dewasa. Sedangkan pada penderita hepatitis B dewasa, kemungkinan menjadi kronik adalah 15 %,“jelas Dr. Unggul. Di Indonesia, hepatitis B sebagian besar telah menginfeksi saat bayi, tetapi karena tidak bergejala, baru ketahuan saat dewasa. Itupun seringkali ketahuan tanpa sengaja, misalnya saat pemeriksaan medis ketika hendak masuk pekerjaan ataupun melakukan donor darah.
 
Cegah Dengan Vaksin
 
Menurut Dr. Unggul, untuk hepatitis A dan E yang pada dasarnya dapat sembuh sendiri, pengobatan yang diberikan adalah pengobatan simtomatik yang bertujuan mengatasi gejala dan istirahat. Sedangkan hepatitis B dan C kronik, tatalaksana dilakukan dengan pemberian interferon selama 6-12 bulan. Interferon adalah obat imunomodulator (pembangkit daya tahan tubuh), yang diberikan melalui suntikan, dengan frekuensi sekali atau 3 kali per minggu.”Efeknya hanya akan pada pemakaian jangka lama, sampai tahunan. Hal ini tidak jarang akan menimbulkan kebosanan pada pasien,” jelasnya. Pencegahan selalu Iebih baik. Pencegahan dalam menangkis Hepatitis, kata Dr. Unggul lagi, adalah dengan melakukan penapisan pada kelompok risiko tinggi dan vaksinasi untuk hepatitis B. Vaksinasi Hepatitis B diberikan 3 kali, dengan jarak vaksinasi pertama dan kedua adalah 1 bulan, sedangkan jarak vaksinasi kedua dan ketiga adalah 5 bulan atau lebih. Dr. Unggul menyatakan bahwa efektivitas vaksinasi hepatitis B sudah terbukti sebesar hampir 100% dan berlangsung seumur hidup.
Sakit hati memang merepotkan. Apalagi hepatitis kronik karena pengobatannya lama serta memakan biaya yang tidak sedikit. Oleh sebab itu, Dr. Unggul menekankan pentingnya vaksinasi. Selain itu, ia juga berpesan jika ada anggota keluarga yang menderita hepatitis B kronik atau sirosis, maka dianjurkan juga pemeriksaan untuk seluruh keluarga. Sebab bisa saja virus hepatitis B pada pasien tersebut ditularkan dan ibu yang bersifat carrier (pembawa virus). OIeh karena itu,saudara kandung serta kedua orang tua pasien perlu diperiksa walaupun tidak ada keluhan. Pencegahan lain juga penting sekali dilakukan. Hidup sehat, menghindari konsumsi alkohol dan bijaksana dalam menggunakan obat-obatan penting dalam menjaga kesehatan hati. Perilaku seks aman dan tidak menggunakan jarum suntik bergantian wajib hukumnya untuk menghindari penularan hepatitis B dan C.

Penanganan Komprehensif

Hepatitis memang sebaiknya tidak boleh disepelekan begitu saja. Namun tataran praktis kerap melenceng dan kerangka ideal. Tidak terkecuali kondisi hepatitis di Indonesia. Kesadaran masyarakat masih lah minim. Jika penyakit ini tidak ditangani serius saat mi, dalam 10 sampai 15 tahun mendatang mungkin akan ada ratusan ribu orang memerlukan transpiantasi hati. Rumah sakit akan dipenuhi pasien sirosis dan kanker hati. Biaya kesehatan masyarakat dan biaya sosial yang timbul akan sangat besar, ujar Dr. Unggul. Maka itu, Dr. Unggul mendesak adanya penanganan hepatitis yang komprehensif, mulai dan penapisan, pengobatan hingga pengawasan. Penapisan bertujuan untuk mendeteksi adanya virus hepatitis sedini mungkin. Selain itu, penapisan juga perlu dilakukan pada ibu hamil untuk mencegah penularan Hepatitis dan ibu kepada janin. Pengawasan dilakukan untuk memastikan setiap pasien menjalani pengobatan dengan disiplin. Sebagai Ketua Kelompok Kerja Kementrian Kesehatan, Prof All memandang perlunya juga peningkatan kompetensi dokter umum dan dokter puskesmas tentang penyakit hati,disamping perluasan penyediaan terapi hepatitis B dan C.”Masyarakat yang terinfeksi hepatitis sangat banyak, jika hanya mengandalkan dokter spesialis itu tidak mungkin. Untuk itu perlu adanya edukasi dokter di lini utama,”imbuhnya. Tantangan lain yang bersifat kiasik adalah mahalnya pengobatan Meskipun penyakit hepatitis banyak tertangkap lebih awal, H Ali Sulaiman, SpPD-KGEH(K) menyesalkan di mana sebagian besar dan mereka enggan melakukan pemeriksaan lanjutan karena tidak mampu membeli obat. “Sungguh sangat tragis. Hanya segelintir dan mereka yang memiliki uang lebih dan rela habis hartanya untuk berobat hingga tuntas/’terang Pemilik Kilnik Hati ini.
Maka itu, Prof Ali maupun Dr. Unggul sama-sama mengupayakan agar akses terhadap deteksi dan obat bagi 20 juta penderita hepatitis menjadi lebih mudah. “ml butuh proses panjang dan tidak mudah,”imbuhnya.

Resolusi Alat Jewer Hepatitis
 
Melihat besarnya kasus Hepatitis, Iayak bila hepatitis menjadi primadona sebagai persoalan serius yang mesti segera diatasi. Menurut prof. All, Penyakit hepatitis bukanlah penyakit yang baru. Tapi karena banyaknya penyakit lain, hepatitis seolah-olah ter-masking atau tertutup dan perhatian pemerinta. Jumlah penderita Hepatitis dan C bahkan lebih banyak dan penderita HIVA IDS, pemerintah justru Iebih banyak menaruh perhatian padanya karena dianggap menakutkan dan nampak perjalanan penyakitnya. Berjuang sejak lama, Prof. All kerap iri dengan penyakit HIV yang banjir perhatian. Baru tahun 2010, Prof. Ali sumringah dengan keberhasilan pemerintah menggolkan resolusi Hepatitis dalam sidang WHO. Kabar gembira itu lebih jelasnya disampaikan oleh Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dr. H.M. Subuh, MPPM pada acara temu media dalam rangka menyambut Han Hepatitis Sedunia. Menurut penjelasan beliau, resolusi
hepatitis merupakan bentuk keperdulian pemerintah terhadap hepatitis. Inti resolusi adalah Hepatitis Virus salah satu penyakit prioritas yang harus ditanggulangi oleh setiap negara anggota Who. Selain itu, tanggal 28 Juli ditetapkan sebagai Hari Hepatitis Sedunia. Resolusi itu, dimaknai Prof Ali sebagai momentum yang tepat.”Sangat menguntungkan sekali, karena ini bisa menjadi alat fewer bagi pèmerintah bila teledor dalam memberikan perhatian bagi hepatitis.”ungkapnya. Menurut Dr. Subuh, untuk mengendalikan penyakit Hepatitis, sejak tahun 1997, Kementerian Kesehatan telah melakukan berbagai upaya diantaranya dengan memasukkan imunisasi Hepatitis B sebagai program imunisasi nasional. Pada tahun 2010, program pengendalian Hepatitis dimasukkan dalam Sub Direktorat Diare & ISPA, Ditjen P2PL. di samping upaya pengembangan surveilans Hepatitis C pada 21 propinsi.
Prof. Ali berharap, dengan adanya keputusan WHO, pemerintah diharapkan Iebih gesit dalam menangani hepatitis. Meskipun saat ini sudah ada vaksinasi gratis bagi ibu hamil, tapi itu dipandangnya belum cukup, mengingat yang perlu di vaksin tidak hanyalah bayi. Semua itu, Prof Ali juga mengusulkan agar akses deteksi dan terapi bagi Hepatitis dipermudah serta diperluas. “Setidaknya biaya deteksi dan pengobatan turun hinga seper sepuluhnya. Pada langkah ni diharapkan pemerintah ikut mensubsidi, minimal untuk biaya skrining hepatitis B dan C,”sarannya.

0 Response to "Cegah Kanker Hati (Liver)"