Sumber Penyebab Kurang Cerdas Anak dalam Berpikir | INFO PENDIDIKAN DAN KESEHATAN

Sumber Penyebab Kurang Cerdas Anak dalam Berpikir




Seberapa cerdaskah sebenarnya orang Indonesia? sebagian berpendapat bahwa kecerdasan orang Indonesia jauh dan Cina, Jepang dan negara-negara Eropa. Sebagian lain menilai sebaliknya. Kita tidak kalah cerdas dengan mereka yang berasal dan negaran egara maju sekalipun.
Mari kita lihat. Anda tentunya tidak asing dengan sosok B.J Habibie. Tubuhnya yang kecil ternyata memiliki otak yang luar biasa. Cerita tentang kecerdasannya tidak hanya menjadi buah bibir di negara kita, bahkan sampal meluas ke seluruh penjuru dunia. Tidak hanya Habibie, Para siswa Indonesia membuktikan bahwa saban tahun selalu meraih medali emas dalam berbagai olimpiade ilmu pengetahuan internasional. Pencapaian itu tak terimbangi Amerika Serikat atau Australia. Banyak juga pelajar Indonesia yang mampu menjadi peneliti kunci di lembaga-lembaga tersebut. Pakar TI kita pun tidak kalah. Pun dengan dokter-dokter kita. AhIi Penyakit Hati Prof.SuIaemn malah berujar bahwa dokter kita dikenal Iebih “prigel”ketimbang dokter-dokter negara lain. Sayangnya, tak semua orang Indonesia punya otak penuh seperti itu. Lebih banyak lagi di antara kita yang berotak kosong. Di samping karena gizi buruk, penyebabnya adalah gizi yang salah. lnilah yang tengah dan akan dihadapi negara kita. Siapa yang salah?
1. Gizi Buruk & Gizi Salah
Memperoleh gizi seimbang serta halal adalah Hak Asasi Manusia, yang berarti juga hak asasi anak. Asupan gizi seimbang adalah kebutuhan mutlak bagi setiap anak. Setiap anak yang lahir akan menghadapi dua kemungkinan berkaitan gizi, yakni gizi seimbang dan gizi salah. Bila asupan gizi anak seimbang, tentu tak jadi soal. Namun, apabila gizinya salah, baik berupa gizi kurang atau pun gizi lebih, tentu menjadi masalah, terutama untuk masa depannya sebagai generasi penerus. Penting untuk diketahui, anak yang baru lahir akan menghadapi kemungkinan kekurangan gizi akibat minimnya zat gizi yang diterima dan ibu yang mengandungnya. Taufik Pasiak, Direktur Centre for Neuroscience, Health and Spirituality - C-NET UIN Kalijaga, Yogyakarta, mengemukakan, keadaan gizi kurang yang dialami anak ketika masih dalam kandungan mau pun pada saat anak berusia 0-2 tahun akan mengakibatkan otak kosong yang bersifat permanen dan tak terpulihkan. “Akibatnya anak akan memiliki kemampuan yang rendah dan menjadi beban bangsa. ini dapat kita lihat dan anak yang lahir dengan berat badan lahir rendah. Atau, lahir dengan kondisi yang kurang menguntungkan seperti cacat sejak lahir. Tentu hal semacam mi akan berdampak terhadap masa depannya kelak,” kata Taufik yang juga Ketua Indonesia Neuroscience Club itu.
Prof A. Razak Thaha, ahli gizi dan Unhas, Makassar, dan Ketua Umum Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesial, menyatakan, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir yakni sejak tahun 2007- 2010, anggaran untuk perbaikan gizi masyarakat terus meningkat. Namun,angka prevalensi penurunan gizi berkurang hanya sedikit, yakni dan 18,4 persen pada 2007 menjadi 17,9 persen pada 2010 yang berarti 3,7juta balita yang kurang gizi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 juga mencatat 35,7 persen anak Indonesia tergolong pendek akibat masalah gizi kronis. Estimasinya ada 7,3 juta anak Indonesia yang jadi pendek. Anak-anak Indonesia yang menderita kekurangan gizi akan sering mengalami sakit, lesu, sering bolos, serta kurangnya daya tangkap dan kreativitas di sekolah. Implikasinya adalah kebodohan akan semakin merajalela. Asupan gizi memegang peran penting terutama hingga anak berusia dua tahun. Sebab pada saat inilah sel-sel otak berkembang pesat dan 80 persen sudah saling terhubungan (interkoneksi). lnilah yang akan menentukan kecerdasannya. Jika pada masa ini asupan gizinya mengalami gangguan seperti gizi buruk, perkembangan otaknya akan ikut terganggu. lebih dan 10 persen asupan gula dan karbohidrat. Asupan susu memberikan kontribusi terbesar terhadap asupan gula (sukrosa).
“Semakin lama semakin banyak,”ujarnya. Penderita obesitas kebanyakan berasal dan kalangan masyarakat kelas atas. “Yang obese itu kebanyakan anak orang-orang kaya, namun kurang memperhatikan anaknya,” ujarnya. Anak-anak ini terlalu banyak makan dan terlalu sedikit geraknya. Makan banyak makanan yang mengandung lemak jenuh dan gula, menyeruput terlalu banyak minuman bergula salah satu pintu masuk gula yang berlebihan itu datang dan susu. Sementara itu, dr.Muhammad Akbar, SpS, Ketua bagian Neurologi FK Unhas, mengungkapkan, penelitian di USA dan Finlandia menunjukkan bahwa asupan tinggi lemak mempunyai risiko peningkatan berat badan Iebih besar dibanding asupan rendah lemak. Penelitian lain juga memperlihatkan bahwa peningkatan konsumsi daging akan meningkatkan risiko obesitas sebesar 1,46 kali. Akbar menjelaskan, anak yang obesitas berisiko menderita penyakit kardiovaskuler dan pseudotumor serebri akibat peningkatan ringan tekan intrakranial. Sementara efek malnutrisi dalam pangka pendek mengakibatkan apatis, gangguan bicara, dan gangguan perkembangan lain. “Efek jangka panjangnya akan terjadi penurunan tes IQ, penurunan integnasi sensoni, gangguan pemusatan perhatian, dan penurunan rasa percaya diri,”imbuhnya. Dr. Akbar melanjutkan, konsumsi makanan kurang zat gizi dalam waktu lama mengakibatkan perubahan metabolisme dalam otak dan tidak berfungsi secara normal. Pada kondisi lebih berat dan knonis menunjukkan ukuran otak lebih
2. Ancaman Obesitas
Selain masalah gizi kurang yang masih banyak, saat ini bangsa Indonesia pun menghadapi ancaman gizi Iebih (obesitas) pada anak. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2010, prevalensi kegemukan pada anak balita secara nasional mencapai 14 persen. Pada penduduk kaya prevalensinya bisa mencapal 14,9 persen sedangkan pada penduduk miskin mencapai 12,4 persen. Provinsi DKI Jakarta sebagal ibukota negara tercatat memiliki angka rata-rata prevalensi tertinggi,yakni 19,2 persen. Masalah ini semakin meningkat akibat pola diet tinggi karbohidrat dan lemak yang tidak disertai dengan aktivitas fisik yang memadai atau aktivitas fisik yang kurang). Menurut Dr. Aman Bakti Pulungan, SpA(K) dan UKK Endokrinologi Ilmu Kesehatan Anak FKUI, obesitas telah menjadi masalah paling serius pada abad ini. Karena itu dia menegaskan sudah saatnya asupan gula berlebih pada anak dibatasi karena banyak sekali dampak negative yang timbul jika gula tambahan diberikan secara berlebih. Sebagai konsekuensinya, terjadi resistensi insulin yang menyebabkan intoleransi glukosa, ganguan metabolisme lemak, Hipertensi, Polycystic Ovary Syndrome (PCOS),dan akhirnya menjadi Diabetes Mellitus tipe 2. Terungkap pula bahwa 25 persen anak obesitas menunjukkan intoleransi glukosa. Riset dan Medical Researh Unit FKUI menyatakan bahwa dan berbagai pangan yang dikonsumsi anak-anak, susu merupakan salah satu pangan dengan kandungan gula tertinggi. Pada riset tersebut, berdasarkan EFQ, 43 persen subjek dengan asupan energi lebih dan 120 persen RDA. Perbandingan asupan karbohidrat, lemak dan protein yaitu 49.81 persen, 33,55 persen dan 15,69 persen. Penellitian menunjukkan, 99 persen subjek mendapatkan kecil, jumlah sel yang berkurang, dan terjadi ketidakmatangan serta ketidaksempurnaan organ isasi biokimia dalam otak.
3. Ibu Berperan Penting

Diterima atau tidak, Indonesia sedang menelan pil pahit akibat penerapan gizi salah tersebut. Keprihatinan mendalam disampaikan Dr Zaenal Abidin MH(Kes), Koordinator Forum Diskusi Lembaga Kajian Kesehatan dan Pembangunan. “Edukasi berkesinambungan akan gizi sangat penting dilaksanakan, tak sekedar bicara mengenal 4 sehat 5 sempurna. Masyarakat seyogyanya dibantu untuk dapat secara cerdas memahami berbagai nama dan nilai gizi pada pangan sehingga tak mudah terkecoh oleh kandungan terselubung yang dapat membahayakan kesehatan anak. Namun, yang jauh Iebih penting, pemerintah mempertegas regulasi pangan dan menyesuaikan peraturan sesuai isu yang berkembang terkait gizi anak,” tegasnya.
Masalah gizi dan generasi otak kosong sudah semestinya menjadi keperdulian bersama. Disamping menuntut perhatian pemerintah, dr. Zaenal melihat perlunya keterlibatan masyarakat dengan dengan menerapkan prilaku hidup sehat dengan gizi seimbang. Ia mengatakan, gizi seimbang disertai pola asuh yang baik sangat penting artinya dalam menyediakan energi yang cukup bagi anak untuk mengeksplorasi Iingkungannya. Di samping itu, gizi seimbang akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh anak dalam menghadapi penyakit sehingga anak memiliki Iebih banyak kesempatan untuk belajar dan merespon stimulasi yang diberikan. “Dengan demikian anak akan bertumbuh dan berkembang menjadi anak sehat, cerdas, berpikir positif-kreatif dan berkarakter.”imbuhnya. Dalam pandangan dr. Zaenal,  seorang ibu memiliki peran yang sangat penting dalam masalah pemenuhan gizi bagi keluarganya. Karena itu kaum ibu haruslah diberdayakan agar memiliki kemandirian ekonomi sehingga dapat mengelola keuangan rumah tangganya secara mandiri untuk menyediakan kebutuhan gizi anaknya. Ibu yang memiliki kemampuan menyiasati keuangan keluarganya akan mampu menjamin ketersediaan pangan bergizi bagi anaknya sekali pun memiliki keterbatasan kondisi ekonomi keluarganya (penyimpangan positif). “Kaum ibu harus memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan pola asuh yang baik, penuh kasih sayang kepada anaknya, memasak sendiri untuk anaknya disertal rasa cinta, serta menyiapkan dan membiasakan anaknya sarapan pagi; memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengolah makanan secara bervariasi, padu-padan, sesuai takaran porsi yang dimulal dan porsi kecil,menggunakan peralatan sehat (bukan dan bahan berbahaya), dan dihidangkan dengan suasana menyenangkan dan santai; juga memiliki pengetahuan dan kemamp uan untuk memilih bahan makanan dan mengutamakan bahan yang bersumber lokal yang masih segar dengan kandungan gizi terjamin, mudah, murah, serta halal balk zat maupun cara memperolehnya,” papar dr.ZainaI. 


Demikian posting kali ini semoga dapat menambah wawasan kita

0 Response to "Sumber Penyebab Kurang Cerdas Anak dalam Berpikir"