Sampah Elektonik (E-Waste) yang Membahayakan

e-waste



Semakin dengan berkembangnya jaman maka berkembang pula kemajuan teknologi dari manusia. kemajuan teknologi yang semakin cepat membuat umur barang-barang elektronik seperti komputer,telepon genggam, tape recorder,VCD player, laptop, airconditioner, baterai litium, kipas angin, mesin cuci, lemari es, lampu dan televisi semakin pendek Benda — benda ini tentunya sudah tidak asing lagi kita gunakan datam kehidupan sehari-hari. Barang-barang elektronik tersebut bukan hanya akrab di kalangan penduduk kota, tetapi juga telah dikenal baik oleh, dari anak-anak sampai dewasa, dari masyarakat perkotaan sampai ke masyarakat yang tinggal di pelosok desa sekalipun. Negara berkembang yang tingkat perekonomiannya masih rendah pun menjadi target bagi Negara maju untuk”membuang”sampah elektronik (e-waste) mereka. Hal ini kadang disamarkan dengan dalih penjualan barang dengan harga yang sangat murah. Dampaknya, barang-barang elektronik dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat di negara berkembang.
Meningkatnya penjualan limbah atau sampah elektronik (e-waste) ini ke negara berkembang akan berdampak pada penumpukan sampah elektronik (e-waste) yang dapat membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia. Lantas bagaimana kita sebaiknya mengatasi atau merawat (e-waste) ini, termasuk cara membuangnya dengan benar. Menurut Prof. Dr.Ir.Enri Damanhuri sampah atau limbah elektronik (e waste) adalah sebutan untuk perangkat atau barang elektronik seperti peralatan rumah tangga berukuran besar sepert kulkas, mesin cuci dan oven, TV, Komputer juga peralatan rumah tangga berukuran kecil seperti vacuum cleaner dan peralatan komunikasi. E-waste juga meliputi teknologi informasi seperti komputer, laptop, printer, telepon, modem dan handphone, serta peralatan hiburan elektronik seperti TV, radio, pemutar DVD atau VCD, dan perlengkapan pencahayaan. Termasuk pula alat-alat listrik dan elektronik seperti mesin bor, mainan elektronik dan peralatan olahraga, perangkat medis,alat monitoring dan alat kontrol. Dikatakan e-waste jika sudah rusak atau tidak dipakai lagi oleh pemiliknya.
Sampah elekronik (e-waste) banyak ditemukan di negara—negara berkembang karena memiliki perekonomian yang rendah sehingga Negara miskin atau berkembang tersebut merupakan lahan subur untuk membuang sampah elektronik (e-waste) tersebut. Teknik yang digunakan biasanya tersamar dengan kedok penjualan dengan harga murah. Ditambah lagi barang barang elektronik ini sudah menjadi kebutuhan yang vital bagi sebagian besar masyarakat, sama halnya dengan sembako. Hal inilah yang kemudian memicu terjadinya peningkatan volume sampah elektronik (e-waste) yang berdampak buruk bagi lingkungan hidup.
Lebih lanjut lagi Prof. Dr. Ir. Enri Damanhuri menambahkan setiap tahun diperkirakan 50 juta ton sampah elektronik (e-waste) di dunia akan bertambah. Di Amerika sendiri pada tahun 2005 terdapat
42 juta komputer yang dihasilkan: 25 juta disimpan, 4 juta didaur ulang, 13 juta di buang ke landfill 0,5 juta di insinerasi. Basel  Convention pada tahun 2006 memperkirakan produksi mobile phone sekitar 23 buah per-detik, dan terjual 870 juta. Di Indonesia diperkirakan ada 120 juta pelanggan ponsel dan 15 juta ponsel jadi rongsokan pada 2009. Perkiraan ponsel dan komputer bekas di Indonesia Iebih dan 7000 ton per-tahun. Jadi rata-rata volume e-waste meningkat 3- 5% per tahun, tiga kali Iebih cepat dibandingkan Iimbah jenis lain. Saat ini sekitar 5% dan limbah padat yang dihasilkan dunia adalah Iimbah elektronik (e-waste) hampir setara dengan jumlah limbah kantung plastik. e-waste bersifat toksik karena mengandung timbal, berilium, merkuri, kadmium, BFRs (brominated flame retardants), senyawa organik ber-halogen.”Ini semua merupakan ancaman bagi kesehatan dan lingkungan,” jelas Prof. Enni.
Mengatasi masalah pengelolaan sampah elektronik ini tidaklah mudah. Proses daur ulang juga tetap akan menjadi masalah karena dalam barang elektronik dan proses ulangnya atau pemanfaatan kembali bahan-bahan yang masih bernilai ekonomis dan e-waste umumnya dilakukan dengan proses pembongkaran, pemotongan, pembakaran atau pelelehan. Semua proses tersebut akan berdampak Iangsung pada kesehatan dan keselamatan pekeia.Mengapa? Karena proses daur ulang dan pembuangan sampah elektronik (e-waste) dapat menimbulkan debu dan asap yang berbahaya apabila terhisap oJeh pekerja. Selain itu, terdapat juga dampak yang Iebih luas yaitu terhadap pencemaran lingkungan karena timbulnya emisi




pencemaran udara dan pencemaran logam berat tethao. air tanah. Menurut Prof. Enri lagi, di negara berkembang termasuk Indonesia, barang bekas atau barang rongsok sebagian besar dimanfaatkan dalam sektor informal Barang elektronik tersebut ‘dipreteli’ untuk dimanfaatkan bagian yang masih bisa digunakan. Proses pemanfaatan tersebut umumnya tidak terkontrol, yaitu: pembongkaran, pemilahan dan pemisahan biasanya secara manual, pengambilan logam yang terkandung dilakukan dengan asam kuat,pelelehan circuit board dengan pemanasan atau pembakaran dilakukan secara terbuka. Pembakaran secara terbuka dilakukan misalnya pada kabel plastik untuk mengambil kuningan-nya, atau menyingkirkan bahan yang tidak diperlukan.
Sebagian besar e-waste mengandung bahan berbahaya karena berfasa padat dan teremisi dalam bentuk debu atau asap. Hal mi terjadi akibat proses pemanfaatan dan dapat terlindikan karena kondisi tertentu karena dibuang sembarangan.OIeh karena itu, e-waste sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Selain itu, e-waste juga mengandung sekitar 1.000 material, sebagian besar dikategorikan sebagal bahan beracun dan berbahaya.
Oleh karena itu untuk mengurangi bahaya akibat e-waste pengelolaan yang dapat dilakukan adalah: (1) Reuse, misal memperbaiki (upgrading) barang elektronik, (2) Recycle, perak, emas, timbal dan beberapa logam yang terkandung pada barang elektronik tersebut dapat diambil kembali (recovery), serta (3) Penimbunan, yang harus mengikuti aturan penimbunan limbah B3. Pengelolaan e-waste harus dilakukan dengan baik dan benar agar bahayanya terhadap kesehatan manusia dan Iingkungan bisa diminimallsir, Diperlukan adanya industri khusus yang fokus menangani e-waste yang aman terhadap kesehatan manusia dan Iingkungan.
Ambil Kembali Produk Anda
Salah satu upaya untuk meminimalisir sampah elektronik adalah dengan menerapkan program exrended producer responsibility EPR) yaitu suatu program dimana produsen bertanggung jawab mengambil kembali (take back) produk-produk yang tidak terpakai dan di harapkan produsen dapat meminimalisir pencemaran dan mereduksi penggunaan sumber daya alam dan energi dan dari setiap tahap siklus hidup produk dan diproses.
Para produsen juga harusnya menciptakan barang elektronik yang mudah diperbaiki, di upgrade, reuse dan aman ketika di daur ulang Yang tidak kalah penting, produsen alat elektronik juga perlu berperan serta dengan memproduksi produk ramah lingkungan dan menjalankan program daur ulang produk yang mereka hasilkan Sementara bagi para konsumen, pakailah produk multifungsi dan mendaur ulang peralatan etektronik bekas.
Kita sebagai masyarakat pun harus sadar dan peduli dengan sampah eletronik karena lambat laun sampah—sampah elektronik akan menjadi masalah yang besar sehingga mulailah untuk berpikir untuk mengelola sampah elektronik lebih baik, dijaga dan rawatlah barang elektronik Anda seperti ponsel, Mp3 atau Mp4, player, ipod serta berbagai barang elektronik lainnya yang ada di rumah dengan baik

0 Response to "Sampah Elektonik (E-Waste) yang Membahayakan"