Efek Buruk dan Pencegahan Film Kartun | INFO PENDIDIKAN DAN KESEHATAN

Efek Buruk dan Pencegahan Film Kartun


Film kartun sering kali dianggap sebagai alat ‘penenang’yang tepat bagi si kecil dan aktiftasnya yang merepotkan. Padahal, tidak semua film kartun bagus untuk perkembangannya.
Pada jaman era teknologi yang semakin modern ini, perkembangan film kartunpun mengalami perkembangan yang signifikan, sehingga mampu membuat anak kecil seperti terhipnotis atau kecanduan. Dan orang tua mulai timbul kecemasannya, yang awalnya hanya berasal dari hobi sang buah hati yang senang menonton film kartun. Setiap harinya, anak-anak  yang berumur 3 tahun ini kerjanya selalu menonton kartun kesayangannya. Ia akan gampang menangis bila sekali saja kartun kesayangannya itu terlewatkan olehnya. “seperti ketagihan, apakah aman si usia balita itu nonton film terlalu banyak?

Menjadi Senjata
Hampir semua stasiun televisi menayangkan film kartun untuk anak-anak. Bahkan saat ini film kartun telah menjadi primadona tayangan-tanyangan televisi. Coba tanyakan ke buah hati Anda akan anak, sehingga tidak apa-apa jika anak-anak menonton. Selain itu,kartun juga dianggap mujarab untuk “mendiamkan” anak agar tak rewel. Film yang menjadi ikonnya anak-anak mi konon memiliki kekuatan hebat dalam menyihir perhatian si kecil. namun, perlu dipahami, tidak semua film kartun ternyata baik untuk perkembangan anak. Berikut uraian Psikolog Gisella Tani pratiwi, M.Psi

Daya Tarik Film Kartun

Semua film dimaksudkan untuk menghibur, begitu pula film kartun bagi anak-anak. Apalagi, dikatakan psikolog Gisella anak memang mudah terserap perhatiannya pada film yang berwarna warni, atraktif dan pergerakan film cepat dengan isi cerita yang menarik seperti film kartun. Pantas saja, jika orang tua atau pengasuh anak lebih suka menjadikannya sebagai alat ‘penenang’ bagi si kecil dan aktifitas lain yang merepotkan. Sayangnya, Hampir semua film kartun tokoh tokoh kartun seperti Bernard, little Krishna, The Shaun and The Sheep, Upin dan 1pm, Kenshin Samurai X, Naruto, Anda pasti akan terpengarah dengan hapalnya mereka pada tokoh-tokoh kartun itu. Begitu senangnya dengan kartun, anak sampal merengek - rengek meminta baju, tas ataupun aksesoris yang memuat gambar kartun kesayangan mereka.
Film kartun memang seperti candu bagi anak-anak. Tokoh-tokoh lucu dengan gambar warna warni cepat memikat perhatian anak. Tak heran, anak begitu betah berjam - jam menonton film animasi ini, dari satu kartun ke kartun lain.
Orang tua juga sepertinya tak terlalu acuh ketika anaknya menonton sajian film kartun itu. Mungkin pikir mereka, itu memang tayangan untuk anak bagus dan aman untuk tumbuh kembang anak. Perlu Anda tahu, film kartun bisa merusak perkembangan anak jika mengandung nilai-nilai yang merusak dan materinya tidak sesuai dengan perkembangan anak. “Misalnya film kartun yang diperuntukkan untuk orang dewasa, film kartun yg mengandung nilain ilai kekerasan dalam berbagai bentuk, pelecehan, diskriminasi gender, diskriminasi RAS dan Iainnya,”ungkapnya. Menonton kartun juga berdampak buruk jika ditonton anak terus menerus dalam waktu yang lama tanpa variasi dan tanpa pengawasan atau diskusi materi dengan orangtua/pengasuh. Hal mi terjadi karena tanpa sadar kartun bisa mempengaruhi anak secara negatif, misalnya sikap agresif, kata-kata yang kurang pantas diucapkan anak balita, perilaku kekerasan, melecehkan orang lain dan lain sebagainya.

Meniru Kartun
Psikolog Gisella menguraikan, usia balita adalah saat dimana anak belajar membentuk perilaku. Pembentukan perilaku, lebih banyak dilakukan dengan modeling atau mencontoh perilaku orang-orang yang dilihatnya. Perlu diketahui, anak balita sudah mulai bisa mencari makna di balik adegan yang ditonton. Selain itu, anak juga sudah mulai bisa menyerap kosa kata serta memahami cerita yang disajikan di televisi, sehingga anak mudah menyerap dan mempercayai apa yang disaksikan di televisi karena keterbatasan kemampuan mereka untuk membedakan antara dunia nyata dan dunia khayalan yang diceritakan di dalam film.
“Meskipun dilarang, apapun yang disaksikannya telah terekam dan sulit ‘dihapus apalagi bila ditonton berulang-ulang,” katanya. OIeh sebab itu, ditegaskan Psikolog Gisella agar orang tua selalu mengetahui konten materi film kartun yang ditonton anak dan mendampingi anak sehingga orang tua bisa membimbing anak untuk mendapatkan pemahaman yang tepat mengenai materi dan nilai-nilai yang disampaikan dalam film.
“Diskusikan jalan cerita suatu film dengan anak sehingga ortu tau jalan pikiran anak tentang film tersebut dan bisa membimbing jika ada kesalahpahaman,”jelasnya.

Stimulasi Sosial Berkurang
Psikolog Gisella menguraikan bahwa kebutuhan anak,khususnya pada masa perkembangan tidak bisa hanya dicukupi dengan diam menonton. Banyak kebutuhan stimulasi lain yang dibutuhkan anak pada masa perkembangan untuk kebutuhan tumbuh kembangnya yang optimal. “Jadi yang menjadi indikator kesuksesan mengasuh tidak hanya ‘diamnya’ anak tetapi juga diukur dan kesesuaian perkembangan anak sesuai dengan tugas perkembangannya,” tuturnya. Keoptimalan perkembangan anak sesuai usia mi bisa dibangun dengan cara memberikan stimulasi pada anak dengan berbagai aktifitas dan kegiatan fisik atau kognitif anak. Film kartun atau jenis film anak Iainnya tidak cukup memenuhi kebutuhan stimulasi bagi anak, salah satunya stimulasi untuk bersosialisasi. “Kegiatan menonton tidak bisa sepenuhnya memenuhi kebutuhan stimulasi sosial yang optimal bagi anak, karena kegiatan menonton lebih bersifat pasif, individual dan non-interaktif,” terangnya. ini, dilanjutkan Psikolog Gisella tentu kurang menstimulasi anak secara sosial dan emosional. Anak menjadi kurang mampu menjalin komunikasi serta skill sosial lainnya, yang tentu diperlukan pada masa perkembangan selanjutnya. Begitu juga dengan hubungan emosi dengan keluarga, menurut Psikolog Gisella, anak dengan kecenderungan menonton yang tinggi kurang memiliki waktu berkualitas untuk menjalin hubungan yang sehat dengan keluarga. Hal ini mengakibatkan, baik anak dan orang tua kurang mengenal satu sama lain sehingga membentuk hubungan emosional yang kurang hangat yang bisa berpengaruh pada perkembangan dini anak secara menyeluruh.

Ada Positifnya

Memang, menonton film, termasuk film kartun tidak selalu memberikan dampak negatif bagi anak. Film kartun tetap memberikan berbagai nilai positif, mulai dan nilai moral seperti empati, toleransi keberagaman, menghormati orang lain hingga memasukkan materi akademik awal seperti pengenalan warna, bentuk, berhitung sederhana, ekspresi seni, membaca dan yang paling utama adalah yang menyangkut dengan ilmu agama. Tidak bisa dipungkiri, dengan menonton berbagai macam film, anak memiliki pengetahuan yang semakin berkembang. Anak juga bisa mengembangkan kemampuan verbalnya baik secara pasif maupun komunikatif serta mengembangkan pengetahuan sosialnya. Apalagi, jika film dikemas dalam bentuk yang menarik, ditunjang dengan alur cerita yang sederhana, atau kompleksitasnya disesuaikan dengan perkembangan usia anak, imbuhnya. Kartun yang baik untuk anak adalah kartun yang bisa mengembangkan imajinatif keratif anak dan mendidik yang berpatokan agama. Kartun jenis ini ditandai dengan warna-warnany yang cerah, cenderung ceria, serta ada nilai-nilai positif yang bisa disampaikan kepada anak. Anak memang membutuhkan stimulasi yang variatif untu mengembangkan imajinas kreatifnya. Namun, bukan berarti anak terus menerus diperbolehkan untuk selalu menonton. Menonton film kartun secara berlebih adalah aktifitas pasif yang kurang banyak merangsang anak untuk bergerak sehingga turut andil dalam membuat anak kurang sehat atau menjadi malas, ungkapnya Padahal, banyak stimulasi lain dan berbagai kegiatan yang lebih diperlukan untuk merangsang ana menjadi aktif dan kreatif, misalnya bermain, berolahraga, berkesenian bercerita dan lain sebagainya.
“Dengan multi kegiatan, karakter anak akan lebih tertempa dan terbentuk dengan baik. Sementara menonton merupakan aktifitas yang hanya memusatkan perhatian pada satu hal saja,”katanya. Tentunya, ini kurang baik karena anak kurang mendapatkan stimulasi dan berbagai aspek. Apalagi bagi anak yang memiliki tingkat intensitas tinggi dalam menonton,” ujarnya.
Bahkan, dikatakan Psikolog Gisella, dan sebuah penelitian Universitas of Washington, US (2005), ditemukan bahwa anak usia 0-3 tahun yang menonton tv lebih dari 2 jam per hari, akan memiliki nilai kemampuan membaca dan memori jangka pendek yang rendah ketika mereka berusia 6 - 7 tahun. Begitu juga dengan sebuah penelitian oleh Yale Family Television Research, us (2003), kepada guru di sebuah sekolah yang menyatakan, anak -anak yang menonton tv terlalu lama akan nampak kurang kooperatif,
Agar Film Kartun Tetap Positif Bagi Anak
Tidak semua film kartun berdampak positif bagi tumbuh kembang anak. Agar hobi anak menonton film kartun tetap aman, berikut tipnya:
1.      Pilihkan film yang tidak mengandung nilai-nilai merusak (sangat sedikit, lebih baik tidak usah menonton sama sekali).
2.      Batasi waktu anak menonton film. Khususnya balita, yaitu sekitar 10 sampai 2 jam per hari.
3.      Jika dalam satu hari anak berkali-kali menonton televisi, batasi dengan lama
waktu 10 - 15 menit setiap sesinya, sehingga dalam 1 han jumlah waktu total menonton televisi adalah 2 jam.
4.      Tetap perhatikan ketertarikan dan kemampuan anakdalam memahamj serta
memperhatikan acara TV.
5.      Tetap seimbangkan dengan kegiatan Iainnya dengan memberikan kegiatan yang
menyenangkan dan mendidik bagi anak.
6.      Dampingi anak setiap kali nonton, sehingga anak mendapatkan penjelasan yang memadai tentang acara yang sedang ditonton, termasuk iklan yang ditayangkan. Hal ini mencegah anak memiliki persepsi yang salah tentang hal- hal yg ditayangkan di televisi.
Tips Jika Si Kecil Kecanduan Nonton
Hobi nonton,begitulah anak-anak. Tapi bagaimana jika sudah sarnpai tidak ingin melakukan kegiatan lain? Berikut tipnya:
1.      Perlahan-lahan kurangi durasi waktu anak menonton dengan memberikan berbagai alternatif kegiatan menarik sesual dengan usia anak.
2.      Berikan penjelasan sederhana (disesuaikan dengan perkembangan bahasa anak), mengapa anak tidak diperbolehkan rnenonton berlebihan
3.      Di luar waktu menonton,lakukan kegiatan lain yang menarik sehingga anak memiliki alternatif kegiatan menarik selain menonton tv.

4.      Usahakan orang tua atau anggota keluarga lain tidak menonton di hadapan anak, sehingga anak belajar bahwa menonton bukanlah kegiatan yang menarik dan penting untk dilakukan. 

0 Response to "Efek Buruk dan Pencegahan Film Kartun"