Cegah Obesitas atau Kegemukan sejak dini

Obesitas telah merebak menjadi salah satu masalah kesehatan paling serius di abad ke 21. Tidak hanya terjadi pada yang telah berumur, obesitas kini semakin banyak ditemukan pada mereka yang berusia di bawah 25 tahun. Berbagai penelitian yang telah dilakukan mengungkap peningkatan yang dramatis prevelensi gemuk pada anak dan remaja, yang menjadi pemicu timbulnya berbagai penyakit komplikasi, antara lain Diabetes Melitus tipe 2. Di Amerika Serikat, misalnya, data yang dikeluarkan American Diabetes Association 2010 mengungkap 2 juta remaja, atau 1 dan 4 remaja gemuk usia 12-19, telah berada dalam tahap pre-diabetes akibat resistensi terhadap insulin sebagai buntut dan obesitas yang mereka alami.
tentang obesitas


Hal tersebut diungkapkan Dr Aman B. Pulungan SpA(K), dan Divisi Endokrinologi Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak, pada media gathering yang dilaksanakan di Jakarta, 18 Juli silam. Aman meneruskan, seiring pemerataan kesejahteraan yang di ikuti dengan perubahan gaya hidup yang mencakup perubahan gaya hidup, membuat obesitas bukan lagi melulu hanya menjadi masalah bagi Negara - negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara di belahan bumi Eropa. Dewasa ini, semakin banyak anak remaja dengan berat badan berlebih ditemukan di negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Angka obesitas anak di Indonesia tak kalah menghawatirkan dan kemungkinan terus bertambah. Perubahan gaya hidup yang ditandai dengan konsumsi makanan dengan gizi tidak berimbang diklaim sebagai pemicu timbulnya obesitas. Lingkungan yang juga turut berubah - terutama di kota - kota besar di Indonesia - mengakibatkan semakin kurangnya aktivitas anak-anak juga membeni kontribusi lahirnya generasi dengan berat badan berlebih.

Riskesdas 2010 mencatat, terdapat 19,6% anak di Jakarta masuk dalam kategori gemuk. “Dan hasil riset yang lakukan pada 182 anak dengan obesitas usia 12-15 tahun menunjukkan 3,8% mengalami intoleransi glukosa (impared fasting glucose), sedangkan 93,9% menunjukkan acanthosis nigricans, suatu penanda insulin resistens pada kulit yang berupa kehitaman pada bagian tengkuk, ketiak dan tangan,” Aman memaparkan.

Riset lain yang dilakukan IDAI pada 92 anak obesitas usia 12-15 tahun
2012 menunjukkan hasil 8,7% mengalami intoleransi glukosa dan 71,7% menunjukkan acanthosis nigricans. Hasil Riset tersebut, menurut Aman, menyimpulkan bahwa anak obesitas memiliki kecenderungan resistensi insulin yang mengarah pada diabetes. Dan data registrasi IDAI juga ditemukan kejadian diabetes tahap 1 pada anak cenderung naik di bulan Juni-Juli dan Desember-Januari, yang merupakan masa liburan panjang anak sekolah,” tambahnya.

Cegah sedini mungkin

Penelitian yang dilakukan oleh Franks,dan kawan-kawan, NEJM, 2010 mengungkapkan obesitas, intoleransi terhadap glukosa, dan hipertensi pada masa kanak-kanak terkait erat dengan kematian prematur di bawah usia 55 tahun. Oleh karena itu, selain melihat tanda-tanda kehitaman pada bagian tengkuk, ketiak dan tangan, adalah sangat penting untuk melakukan skrining sedini mungkin pada mereka yang berisiko. Dijelaskan Aman, waktu tepat untuk melakukan skrining terkait hal tersebut adalah pada usia 10 tahun yang merupakan awal pubertas. Frekuensi skrining dapat dilakukan setiap dua tahun sekali menggunakan metode fasting plasma glucose dan penilaian klinis harus ddigunakan untuk pengetesan DM pada pasien yang berisiko tinggi yang tidak masuk dalam kriteria-kriteria metode sebelumnya.
Obesitas pada anak sebenarnya dapat dicegah dengan menjalankan pola hidup yang benar. Dr. dr. Fiastuti Witjaksono, MSc. MS. Sp.GK, dokter spesialis klinik dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menjelask an, untuk mencegah obesitas pada anak perlu diperhatikan:

1.       Jumlah kalori sesuai kebutuhan
2.       Jenis makanan den gan komposisi karbohidrat, protein dan lemak seimbang,
3.       Serta waktu mak an yang baik.

“WHO merekomendasikan untuk meningkatkan konsumsi sayur, buah dan biji-bijian, atasi asupan kalori dan lemak jenuh dan ganti dengan lemak tak jenuh serta membatasi asupan gula,” ujar Fiastuti.
Buah dan sayur sangat baik dikonsumsi sebagai salah satu upaya untuk mencegah obesitas. buah dan sayur mengandung serat larut yang akan membantu penyerapan gula Iebih lambat dan mencegah peningkatan kadar gula agar tidak berlebihan dan juga tidak menurun drastis. Terutama bagi penderita diabetes sangat penting menjaga kadar gula tetap normal. saIah satunya adalah dengan memperbanyak buah dan sayur dalam menu harian. “Namun tidak sembarang buah, karena buah yang manis pun memiliki kadar gula yang tinggi. Buah kiwi memiliki glycaemix index yang rendah sehingga aman dikonsumsi bagi penderita diabetes,” tutur Fiastuti.

Aman Pulungan menambahkan. dengan menjalankan gaya hidup yang berpedoman pada 5 2 1 0, masalah obesitas dapat dicegah. Metode tersebut adalah
1.       Konsumsi buah dan sayur 5 porsi sehari,
2.       Jangan duduk Iebih dan 2 jam,
3.       Lakukan aktivitas fisik selama 1 jam tiap hari dan
4.       20 menit kegiatan olahraga minimal 3 kali seminggu.
“Batasi konsumsi gula dan lebiha banyak air mineral. Fakta bahwa 93,6% penduduk Indonesia berusia di atas 10 tahun masuk dalam kategori kurang makan buah & sayur harus segera diatas dengan mulai membiasakan konsumsi buah dan sayur secara teratur,” imbuhnya. 

0 Response to "Cegah Obesitas atau Kegemukan sejak dini"